Legowo & Partners

Gerindra Hormati Proses Hukum Tweet Farhat Abbas

In Uncategorized on Januari 14, 2013 at 9:47 pm
Jakarta-Mediasi Online. Ketua DPP Gerindra Bidang Advokasi, Habiburokhman SH MH menyatakan, permintaan maaf Farhat Abbas terkait tweetnya soal plat mobil Ahok patut diapresiasi. Saat ini sangat sedikit figur publik yg  berani meminta maaf secara terbuka jika menyadari telah melakukan kesalahan.

Di sisi lain  sikap Anton Medan dan  Ramdan Alamsyah  selaku Ketua Komunitas Intelektual Muda Betawi (KIMB) yang melaporkan Farhat ke Polisi juga patut diacungi jempol, karena memang ke Polisi-lah kita harus mengadu jika merasa telah terjadi  pelanggaran hukum.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Ramdhan Alamsyah adalah mantan Ketua Tim Advokasi Foke-Nara, yang dahulu bersaing sengit dengan Jokowi-Ahok pada Pemilukada. Namun Ramdhan bersama Anton Medan justru  membuktikan bahwa perjuangan melawan rasisme adalah agenda bersama, tak peduli siapa yang diduga  pelaku dan siapa yang menjadi korban.

“Saat ini tinggal menunggu polisi menindak-lanjuti laporan tersebut secara profesional. Biasanya  dalam waktu yang tidak terlalu lama polisi akan memangil pihak-pihak terkait termasuk Farhat Abbas selaku terlapor untuk dimintai keterangan,” ujar Habiburokhman melalui release yang dikirimkan akhir pekan lalu.

Pasal yang paling mungkin digunakan untuk memeriksa Farhat menurutnya, adalah Pasal 16 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Etnis yang intinya berbunyi “Setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun.”

Untuk menafsirkan apakah tweet Farhat Abbas memenuhi unsur-unsur pasal 16 tersebut lanjutnya, pihak kepolisian harus meminta pendapat ahli komunikasi yang mempunyai kapasitas untuk menganalisa apa makna yang muncul dari tweet Farhat Abbas tersebut.

“Perlu dikaji secara ilmiah apakah kalimat ‘apapun platnya, tetap Cina! dapat dikategorikan sebagai sikap ‘menunjukkan kebencian rasial’, sebab memang tidak jelas apa hubungan antara plat mobil dengan latar belakang etnis,” jelas Habiburokhman.

Harus diakui bahwa UU Nomor 40 Tahun 2008 belum begitu sempurna, sehingga banyak tindakan yang oleh masyarakat dirasa sebagai rasisme tetapi tidak diatur dalam UU tersebut secara tegas. Hal yang berbeda terjadi di Amerika Serikat, dimana sikap tubuh (gesture) yang menirukan monyet saja bisa diartikan sebagai tindakan rasis yang menghina masyarakat asal Afrika.

“Kami sangat berharap agar Polisi bisa segera menyelesaikan tugasnya dalam kasus ini. Masalah rasisme adalah masalah super sensitif yang bisa memecah-belah bangsa kita jika tidak dihandle dengan tepat,” pintanya.

Sejarah telah membuktikan bahwa adanya diskriminasi ras dan etnis dalam kehidupan bermasyarakat merupakan hambatan bagi pembangunan jati diri bangsa kita. Di seluruh dunia tidak ada bangsa yang bisa besar jika belum bisa menyelesaikan persoalan diskriminasi ras dan etnis.

sumber : http://mediasionline.com/readnews.php?id=4132&t=Gerindra%20Hormati%20Proses%20Hukum%20Tweet%20Farhat%20Abbas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: