Legowo & Partners

Opini : “Apakah aku(anak) harus juga menjalani hukuman gara-gara keisenganku”

In Uncategorized on Februari 19, 2010 at 2:05 pm

Baru lalu telah terjadi sebuah tragedy terhadap diri seorang anak yang atas kenakalan(sewajarnya anak bermain/keisengannya) membuat dirinya harus berurusan dengan hokum. Dimana sang anak menempelkan lebah kepada pipi temannya yang mengakhibatkan bengkak dan hal tersebut membuat orang tuanya  menjadi tidak terima dan melaporkannya anak (menempelkan lebah) kepada Pihak yang berwajib  yaitu Polisi.

Kalau saya boleh berpendapat bahwa yang dilakukan anak tersebut dengan menempelkan lebah ke pipi temannya tersebut sebenarnya tidak ada muatan ataupun niatan untuk melukai temannya. Memang anak-anak mempunyai rasa ingin tahu dan mempunyai sifat jahil dan sifatnya hanya kenakalan anak yang wajar. Sehingga niatan untuk melukai atau menganiaya tentunya tidak ada apalagi mereka adalah teman sekolah. Dunia anak ya seperti itu kadang berantem terkadang setelah berantem rukun kembali karena dalam pemikirannya dan hatinya tidak ada unsure untuk menyakiti adanya niatan untuk bermain dengan sedikit jail. Penulis dulu juga pernah dilemapar oleh teman pakai batu ketika bermain atau dipukul oleh teman karena menirukan petinju Elias pikal yang dulu terkenal sehingga bermainlah “gelut-gel;utan”(istilah jawanya) bukan berarti memukul serius untuk melukai tetapi apabiola terjadi unsure tidak kesengajaan, unsure bermainnya yang masuk bukan niatan untuk melukai.

Dunia anak memang penuh warna penuh dengan percepatan asupan ilmu dan wawasan yang terkadang orang tua harus ekstra hati-hati dalam melakukan pengawasan terhadap anak-anak. Kalau dilihat dari kasus/perkara yang menimpa anak yang menempelkan lebah tersebut tentunya dia tidak niatan untuk melukai tetapi karena pihak orang tua yang tertepeli lebah tidak terima menjadi kan hal ini sebuah perkara.

UU Perlindungan anak yang telah di buat oleh pemerijntah sebenarnya untuk melinduingi anak-anak Indonesia serta menyejahterakannya bukan untuk menjeratnya, Tetapi  bayak fakta yang ada dilapangan terkadang karena keisengannnya anak untuk mencoba tak jarang mereka harus berhadapan dengan hokum.

Bahwa sudah sangat jelas dalam Konvensi Hak Anak  Pasal 37b mengatakan bahwa penangkapan, penahanan dan pemenjaraan akan dilakukan sesuai hukum yang berlaku dan akan digunakan sebagai upaya terakhir dan untuk jangka waktu yang sesingkat-singkatnya

Hal tersebut telah diapdopsi oleh UU Perlindungan Anak menjadi bagian penting yaitu Pasal 16 ayat 3 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 UU Perlindungan Anak berbunyi “ Penangkapan, penahanan atau Tindak Pidana Penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.”

Hal tersebut diperlengkapdi perkuat pada Undang-Undang No.3 Tahun 2007 tentang Pengadilan Anak dalam Pasal 24 banyak alternative yang bisa dikenakan kepada anak yang sedang berkonflik dengan hukum antara lain :

–          mengembalikan kepada orang tua, wali atau  orang tua asuh.

–          Menyerahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja

–          Menyerahkan kepada Dinas sosial atau Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang bergerak dibidang pendidikan, pembinaan dan latihan kerja.

Namun masih saja perkara sepele yang terjadi pada anak-anak dilakukan tindakan represif terhadapnya, anak-anak adalah tunas bangsa penurs  generasi apabila dilakaukan seperti ini maka kejiwaan anak akan terganggu tanpa disadari akan menimbulkan trauma ataupun sikap – sikap tertutu dan bias jadi akan menimbukan sifat pemberontakan. Karena pola pikirnya akan menjadi lebih cepat dewasa akhibat perkara yang dihadapinya. Parahnya jika sampai menjalani hukuman penjara tentunya akan berakhibat terhadap diri sang anak menjadi trauma dan juga tentunya ada sisi lain yaitu “bertambahnya ilmu”. Sayangnya pola piker penegak hokum kita masih berfikir siapa yang melakukan tindak kejahatan harus dilakukan pemenjaraan untuk membuat mereka bertobat. Tetpai tidak semua pejabat Hukum seperti itu lho…..juga ada yang berwawasan luas sehingga apabila anak-anak pelakunya dilakukan pengembalian kepada orang tuanya ataupu dipaskan dengan masa tahannanya.

Tetapi jika ada permasalahan terhadap diri anak dengan anak yang lain alangkah baiknya diselesaikan dengan musyawarah kekeluargaan terlebih dahulu sehingga permasalahan dapat terselesaikan dengan baik dan patut tidak samapi pada jalur hokum.

Anak yang belum cukup umur tentunya masih dalam pengampuan orang tua maka tentunya orang tua harus ikut bertanggung jawab atas apa yang dilakukan anaknya sehingga kesalahan anak bukan semata-mata kesalahannya tetapi orang tua juga berperan didalamnya misalnya orang tua terlalu sibu bekerja sehingga membuat perhatian terhadap anak menjadi berkurang, pengawasan dalam melihat media baik tv, internet, Koran yang berbau seks. Pernah penulis mendampingi kasus pencabulan anak, pelakuy usia 16 tahun, korban umur 5 tahun, Pelaku melakukan hal pencabulan dikarena melihat foto syuur di HP temannya sehingga membuat dirinya terangsang, pada saat saudaranya perempuan dating kerumah dilakukannya perihal tersebut kepadanya. Hukumannya 6 tahun penjara.

Apabila kita lihat cerita tersebut miris namun dapat kita ambil kesimpulan anak melakukan kenakalan ada beberapa factor yaitu :

  1. Influen/melihat dari media massa seperti internet, Koran syur, tayangah TV yang mempertontonkan adegan ciuman.
  2. Pertemanan dengan orang yang lebih dewasa
  3. Melihat ketika orang Tuanya sedang melakukan “hal bersenggama”

Apa yang harus kita lakukan?

Menurut hemat penulis yang dapat kita lakukan terhadap anak kita”tindakan presentif” adalah dengan :

  1. Mendampingi anak dalam melihat TV dan memberikan penjelasan bila perlu
  2. Menjalain hubungan yang harmonis dengan anak, jangan selalu memposisikan diri sebagai orang tua melainkan juga sebagai sahabat mereka sehingga akan terjadi keterbukaan.

Apabila terjadi permasalahan “anak berkonflik dengan Hukum” maka yang ada lakukan adalah:

Menghubungi LSM peduli Anak yang ada didaerah anda, LBH ataupun Advokat yang peduli dengan anak-anak minta bantualha kepada mereka.

Tetapi sayangnya pendiskripsian anak dinegara kita masih bermacam-macam UU Perlindungan anak dibawah 18 tahun, KUHP kira-kira 12 tahun, UU Perkawinan Kira-kira 16 tahun sehingga belum ada kesinkronan dan juga dalam melakukan tindakan  perlindungan anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: