Legowo & Partners

“Akhibat perceraian terhadap Anak”

In Uncategorized on November 25, 2008 at 8:09 am

Melihat banyak sekali terjadi Perceraian dikalangan Artis yang mengakhibatkan menjadi komsumsi Publik dan seringkali mengakhibatkan anak menjadi bahan rebutan atas Hak pengasuhan atau Hak Hadhanah yang memang menurut Kompilasi Hukum Islam maupun Undang-undang Perkawinan(UU No 1 Tahun 1974) memang menjadi Hak seorang ibu apabila anak tersebut belum muazis (pasal 105 Kompolasi Hukum Islam, huruf a berbunyi “ pemeliharaan anak yang belum mumayyzis atau belum berumur 12 tahun dalai hak ibunya)sering kali menjadi bahan perebutan dengan dalih Ibu kurang bisa dalam mendidik maupun dalam hal mengasuhnya.

Kalau kita runtut pengertian pernikahan menurut Undang-undang Perkawinan adalah suatu ikatan untuk membangun suatu keluarga ayang sakinah, mawadah, waromah. Percerian merupakan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah tapi diperbolehkan dalih yang kuat begitu juga menurut Agama Kristen maupun Katolik yaitu segala sesuatu yang dipersatukan oleh Allah tidak dapat dipisahkan oleh Manusia.

Sebenarnya apabila ketika terjadi percerai perlu didengar juga pendapat anak untuk dapat ikut menentukan mau ikut Bapak atau Ibunya, juga perlu di pahami bahwasannya suatu perkawinan yang sudah putus anak harus tetap mendapatkan kasih sayang yang penuh dari orang tuanya mesti sudah bercerai.

Apabila kita pahami atas 4 Prinsip yang terkandung dalam Konvensi Hak Anak yang salah satunya berbunyi :

  • Yang terbaik untuk anak (best interests of the child) artinya segala tindakan yang menyangkut kepentingan anak maka yang terbaik bagi anak haruslah menjadi pertimbangan yang utama.

  • Penghargaan terhadap pendapat anak (respect for view of the child) maksudnya bahwa pendapat anak terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya, perlu diperhatikan dalam setiap pengambilan keputusan.

Sehingga apabila kita memahami hal tersebut maka dipastikan tidak akan terjadi perebutan Hak pengasuhan anak dimana mereka akan memposisikan Anak sebagai Subyek. Dimana kedua belah Pihak(suami istri yang sudah bercerai) dapat secara bersama-sama tetap dapat memberikan kasih sayang sepenuhnya.

Ketentuan Tentang Pemeliharaan Anak

Khusus untuk yang beragama Islam:

Anak yang belum berumur 12 tahun atau belum mummayiz menjadi hak ibu untuk meliharanya, bila ibunya telah meninggal dunia maka kedudukannya diganti oleh:

(1) perempuan dalam garis lurus ke atas dari

pihak ibu (nenek dari pihak ibu)

(2) ayahayah

(3) perempuan dalam garis lurus ke atas dari (nenek dari pihak ayah)

(4) saudara perempuan dari anak yang bersangkutan

(5) kerabat perempuan sedarah menurut garis samping dari ibu (bibi/tante dari pihak ibu)

(6) kerabat perempuan sedarah menurut garis samping dari ayah (bibi/tante dari pihak ayah) (Pasal 156 Kompilasi Hukum Islam)

Syarat Untuk Mendapatkan Hak Pemeliharaan Anak, yaitu :

Secara umum, biasanya hal-hal yang akan diperhitungkan hakim dalam menentukan hak pemeliharaan anak:

1. Tingkah laku, seperti apakah orangtua pemabuk, penjudi, penganiaya

2. Perhatian kepada anak

3. Kemampuan ekonomi

Kompilasi Hukum Islam (Keppres 1 Tahun 1951 ) menyatakan anak yang belum berumur 12 tahun atau anak yang belum mummayiz otomatis pemeliharaannya jatuh pada ibu, tetapi ada beberapa hal yang bisa membuat sang ibu tidak mendapat hak pemeliharaan tersebut, yaitu :

1. Tidak beragama Islam/pindah dari agama Islam.

2. Berkelakuan buruk, seperti pemabuk, penjudi, pencandu narkoba, penganiaya.

3. Mengalami gangguan jiwa.

Kehilangan Hak Pemeliharaan Anak

Orangtua yang mendapat hak pemeliharaan anak dapat dicabut haknya bila:

  1. Sangat melalaikan kewajibannya terhadap anak tersebut

  2. Berkelakuan buruk sekali

Sesuai dengan Pasal 49 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 berbunyi :

  1. Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang, dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal :

    1. Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya;

    2. Ia berkelakukan buruk sekali.

  2. Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih tetap berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.

Sehingga atas dalil tersebbut diatas seyogyaknya kita sebagai orang tua haruslah bijaksana dalam menentukan kepentingan yang terbaik untuk anak sehingga anak jangan samapai menjadi korban perceraian kedua orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: