Legowo & Partners

Anak yang Berkonflik dengan Hukum

In Uncategorized on November 25, 2008 at 8:13 am

Anak adalah tunas bangsa yang sangat diharapkan sebagai penerus keluarga dan lebih luas lagi sebgai penerus bangsa ini agar menjadi bangsa yang lebih beradap. Banyak sekalai sekarang ini anak melakukan perbuatan yang melanggar hukum dari mulai pencurian, judi, samapai dengan pemerkosaan terhadap temanya sendiri yang nota bene kesemuanya masih dibawah umur.

Anak menurut Konvensi Hak Anak dan Undang-undang perlindungan adalah orang yang masih berusia dibawah 18 tahun, sedangkan dalam KUHP anak adalah orang yang sudah berumur 12 tahun sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam anak sudah muaziz atau sudah mengalami mimpi basah.

Banyak berbagai faktor atau penyebab anak melakukan tindak pidana yaitu :

  1. Faktor lingkungan tempat tinggal anak.

  2. Faktor Keluarga pola asuh dan suasana kehidupan keluarga

  3. Faktor Individu dari dalam diri Anak sendiri (anak mempunyai penyakit klepto)

Ketika anak tidak mendapatkan kebutuhannya baik secara ekonomi maupun Kasih sayang dirumah maka anak akan melakukan tindakan yang menjurus pada Tindak Pidana Tindak, namun yang paling terpenting adalah Kasih Sayang yang harus diberikan secara penuh. Apabila kita lihat dalam pemberitaan media massa banyak kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak dalam lingkup pencurian, penganiayaan, pengeroyokan, perjudian, pencabulan dan persetubuhan. Keluarga sangatlah penting sebagai pemantau utama sekaligus pendidikan yang pertama bagi anak. Kebanyakan yang terjadi bahwa Tindak Pidana yang dilakukan anak/kenakalan remaja yang dilakukan anak karena berangkat dari keluarga yang bercerai atau keluarga yang utuh namun Orang Tua kurang memberikan kasih sayang maupun kepada anaknya.

Para penegak hukum terkadang dalam menyikapi kenakalan remaja kurang bersikap bijaksana. Kebanyakan dalih yang dipergunakan untuk mengatasi Kenakalan Anak dengan menggunakan Tindakan represif dengan memberlakukan Ketentuan-ketentuan Pasal yang ada pada KUHPidana dengan saklek, amat jarang seorang Penegak Hukum melakukan restorasi Justice namun demikian tidak semua Penegak Hukum melakukan Tindakan represif terhadap kenakalan anak.

Apabila menganut Konvensi Hak Anak (KHA) maka seharsnya Penegak hukum melakukan segala tindakan yang terbaik untuk anak (best interests of the child) artinya segala tindakan yang menyangkut kepentingan anak maka yang terbaik bagi anak haruslah menjadi pertimbangan yang utama (Pasal 3 ayat 1 Konvensi Hak Anak).

Sehingga Pemenjaraan terhadap diri anak dilakukan sebagai upaya terakhir bukan untuk sebagai tindakan respresif,dimana anak melakukan kenakalannya dikarenakan banyak faktor, pemenjaraan terhadap diri anak tidaklah cukup dikarenakan dikawatirkan anak akan menjadi lebih ahli ketika masuk penjara. Terkadang anak dalam sel tersebut dicampurkan dengan orang dewasa yang seharusnya anak mendapatkan sel tersendiri tidak bercampur dengan orang dewasa. Hal tersebut sesuai dengan Surat Edaran Kejaksaan Agung pada Makamah Agung Indonesia pada 30 Maret 1951 No.P.1/20 perihal tentan Penjahat anak-anak dikatakan bahwa “….Dengan pasti dapatlah ditentukan bahwa pergaulan hidup dan keadaanlah yang menjerumuskan anak-anak ini dalam lembah kejahatan. Bilamana terhadap mereka yang masih kanak-kanak itu karena kesalahannya dikenakan penjara, maka sejak itulah dimulainya kerusakan akhlak anak-anak tadi, karena dalam rumah-rumah penjara itu sudah barang tentu anak tadi akan bercampur dan bergaul dengan penjahat-penjahat ulung…”

Peranan Penegak Hukum dari tingkat Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lebaga Pemasyarakat saling bekerjasama melakukan pelaksanaan restorasi justice sehingga hukuman dilakukan sebagai upaya terakhir. Bahwa menurut Konvensi Hak Anak Pasal 37b mengatakan bahwa penangkapan, penahanan dan pemenjaraan akan dilakukan sesuai hukum yang berlaku dan akan digunakan sebagai upaya terakhir dan untuk jangka waktu yang sesingkat-singkatnya. Hal yang sama juga diatur dalam Undang-Undang HAM Pasal 64 ayat 4 dan Pasal 16 ayat 3 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 berbunyi “ Penangkapan, penahanan atau Tindak Pidana Penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.”

Undang-Undang No.3 Tahun 2007 tentang Pengadilan Anak dalam Pasal 24 banyak alternative yang bisa dikenakan kepada anak yang sedang berkonflik dengan hukum antara lain :

  1. mengembalikan kepada orang tua, wali atau orang tua asuh.

  2. Menyerahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja

  3. Menyerahkan kepada Dinas sosial atau Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang bergerak dibidang pendidikan, pembinaan dan latihan kerja.

Anak yang berkonflik dengan hukum telah menjalani penahanan ditingkat kepolisian yang mengakibatkan anak menyesali perbuatannya diharapkan Pihak Kepolisian dapat memulangkan diri anak kepada orang tuanya sebagai Pihak Penjamin dengan di kenai wajib lapor. Sehingga atas kewajiban lapor tersebut diharapkan anak akan bertanggung jawab atas tindakannya dan akhirnya membuat efek jera.

Apabila kenakalan Anak tersebut ditangani dengan tindakan represif yang kemudian mengakhibatkan anak ditahan di Lembaga Pemasyarakatan dikawatirkan anak nakal akan menjadi pintar dalam melakukan kenakalannya terlebih lagi pemenjaraan terhadap diri anak dapat mengakhibatkan trauma dimana kehidupan di penjara dianggap sangat menakutkan bagi diri anak.

Sehingga atas perihal tersebut maka pemenjaraan bukanlah jalan terakhir bagi penyelesaian permasalahan anak yang berkonflik dengan hukum. Apabila dengan terpaksanya anak dilakukan pemenjaran maka harus dilakukan pemenjaraan yang terpisah dengan orang dewasa, namun sayang ketika jam istirahat maka napi dewasa dan anapi anak bercampur hal ini terkadang membawa pengaruh yang kurang baik. Anak nakal dahulu sebelum masuh Penjara tidak merokok ketika masuk menjadi seorang perokok. Maka sangat diperlukakan Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak yang reprensentatif bagi anak di setiap propinsi, sehingga apabila terdapat Tahanan Anak maka dapat ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Anak tersebut dengan fasilitas pendidikan serta ketrampilan yang mendukung bagi kehidupan anak.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: